Kalian mesti tahu gimana suka dukanya jadi anak Psikologi. Khususnya suka duka ketika nyari OP (Orang Penelitian) buat praktikum.
Dulu waktu SMP atau SMA, bahan penelitian kita kan paling cuma bawa jenis tanaman, bawa kodok, serangga, cairan cuka, mentega basi, air jeruk, de el el. Nah sekarang pas kuliah, berhubung aku ngambil Psikologi, yaa bahan penelitiannya adalah manusia. Yang namanya manusia kan karakternya beda-beda, kemauannya juga beda-beda.
Pokoknya kalo dianalogikan, OP itu adalah sejenis makhluk yang sangat misterius. Makhluk yang kadang bisa jadi malaikat penolong, tapi seringnya sih udah kaya kawanan begal yang suka bikin takut, khawatir, deg-degan gak karuan.
Malaikat penolong, karena doi mau bantuin kita praktikum. Tapi kalo doi tiba-tiba gak ngasih kabar, tiba-tiba gak bisa dihubungi, atau bahkan tiba-tiba gak bisa datang. Udah... bye! Tamat riwayat lo jadi mahasiswa Psikologi!
Tau gak, nyari OP itu udah kaya nyari jodoh. Susaaaah banget. Pernah waktu itu aku nyari OP, eh setiap orang yang ditanya ternyata udah pada sold out, alias udah jadi milik orang lain. Rasanya cuma aku yang belum juga dapet pasangan hidup #eh
Jadi curhat. Suatu hari aku pernah minta someone buat jadi OP, dan doi udah bilang oke. Eeeh esok harinya doi tiba-tiba bilang, "Maaf Riksa sekarang aku udah jadi OP orang". Jleb banget kan, siapa yang berani-beraninya nikung dari belakang?!
Terus aku juga pernah rebutan OP sama temen aku. Sampe nyuruh si doi buat milih diantara kita berdua. Tau gak, rasanya tuh seneng banget banget banget ketika doi ternyata lebih milih aku daripada temen aku itu.
Aku juga pernah minta someone buat jadi OP, terus doi bilang "Maaf Riksa jam segitu aku ada kuliah". Tapi esok harinya, ternyata doi udah jadi OP temen sekelas aku, dengan alasan "Ternyata jam segitu aku gak ada kuliah, aku salah lihat jadwal".
Terlepas dari semua itu, OP juga adalah makhluk yang sangat spesial. Kalau doi gak tahu alamat kampus atau gak tahu letak laboratorium Psikologi dimana, terpaksa kita harus menjemput doi dimanapun posisinya. Lebih parah lagi kalau udah mah rumah doi jauh, nyasar, dan gak tahu saat itu lagi ada dimana. Udah... bye!
Pernah saat itu aku punya OP, doi tiba-tiba gak bisa dihubungi, dari malam sampai hari H gak ada kabar. Sebagai praktikan aku butuh kepastian dong. Akhirnya jam 7 pagi sebelum berangkat kuliah aku terpaksa datang ke kosannya. Tuh kan bener ternyata dia masih tidur, padahal kita janji jam 8.
Lebih spesial lagi, kalau persyaratan OPnya adalah anak kecil. Aduuuuh itu ritualnya banyak banget. Mulai dari mencari, kenalan, ngajak ngobrol, ngajak maen, dijajanin. Beuuuuh roaming banget PDKTnya. Eeeeh pas hari H doi rewel, gak mau lepas dari mamahnya.
So, anak Psikologi itu harus gak tahu malu, bahkan bisa dibilang malu-maluin. Iyalah, kan harus ngajak kenalan orang, so kenal sama orang, dan minta kontak orang yang gak kita kenal sebelumnya (buat yang lagi nyari jodoh, suka menyelam sambil minum air hahaha). Soalnya kalau gak gitu, kita gak akan bisa dapet OP buat praktikum.
Tapi sesulit apapun itu, kalo kita udah jatuh cinta sama Psikologi dan yakin Allah akan menolong kita, akan selalu ada jalan ko. Buktinya, dari sekian banyak praktikum yang aku jalani, bahkan satu praktikum butuh 5 orang OP sekaligus pun, Alhamdulillah ada aja orang yang nyantol, yang mau jadi OP aku.
Rabu, 06 Mei 2015
Selasa, 31 Maret 2015
Perempuan Akhir Zaman
Aku tahu aku tak sempurna. Aku tak secantik Ratu Balqis, tak sesabar Siti Khadijah, tak secerdas dan sesolehah Siti A'isyah. Aku hanya perempuan biasa, yang terlahir dari keluarga biasa. Aku hanya perempuan akhir zaman yang penuh dosa.
Jika aku tak bisa seperti Ratu Balqis, lalu apakah aku pantas mendapatkan pasangan hidup seperti Nabi Sulaiman? Jika aku tak bisa seperti Siti Khadijah dan Siti A'isyah, lalu apakah aku pantas mendapatkan pasangan hidup seperti Nabi Muhammad Saw.?
Aku tahu dengan segala kekuranganku, aku bukanlah siapa-siapa. Aku tahu dengan segala kesederhanaanku, aku hanyalah perempuan biasa. Tapi salahkah aku jika menginginkan pasangan hidup yang sempurna? Salahkah aku jika mengharapkan pasangan hidup yang baik agamanya? Yang baik rupanya? Baik hartanya dan baik keturunannya?
Ya, aku hanya perempuan biasa, perempuan akhir zaman yg bercita-cita ingin menjadi wanita solehah. Aku ingin memantaskan diriku agar mendapatkan pasangan hidup yang sempurna. Setidaknya mendekati sempurna.
#Wallahualam
Jika aku tak bisa seperti Ratu Balqis, lalu apakah aku pantas mendapatkan pasangan hidup seperti Nabi Sulaiman? Jika aku tak bisa seperti Siti Khadijah dan Siti A'isyah, lalu apakah aku pantas mendapatkan pasangan hidup seperti Nabi Muhammad Saw.?
Aku tahu dengan segala kekuranganku, aku bukanlah siapa-siapa. Aku tahu dengan segala kesederhanaanku, aku hanyalah perempuan biasa. Tapi salahkah aku jika menginginkan pasangan hidup yang sempurna? Salahkah aku jika mengharapkan pasangan hidup yang baik agamanya? Yang baik rupanya? Baik hartanya dan baik keturunannya?
Ya, aku hanya perempuan biasa, perempuan akhir zaman yg bercita-cita ingin menjadi wanita solehah. Aku ingin memantaskan diriku agar mendapatkan pasangan hidup yang sempurna. Setidaknya mendekati sempurna.
#Wallahualam
Jumat, 27 Maret 2015
Hanya Ilusi
Saat itu dunia masih tertidur. Lelap. Namun aku tiba-tiba terbangun. Sendirian. Sunyi senyap, hampa rasanya. Suara binatang malam terdengar seperti alunan musik klasik. Lembut. Tak lama kemudian suara ayam jantan mulai berkokok di ujung selatan. Mentari pagi sedikit demi sedikit naik ke permukaan. Kini duniaku sudah terbangun, dan aku tak lagi sendirian.
Ku tengokkan wajahku ke kiri dan ke kanan, rupanya ada sesosok manusia melambaikan tangan dari arah belakang. Dia tersenyum kaku, menatap dengan tajam. Aku tak tahu persis dia tersenyum untuk siapa. Tapi aku tahu matanya menatap ke arahku. Rupanya dia semakin mendekat. Seolah ingin menyapa. Dengan mantap dia melangkah. Tapi aku hanya terdiam. Dan hanya bisa diam. Wajahnya mulai terlihat jelas, namun senyumnya semakin kaku.
Kini dia ada di hadapanku. Menatapku. Ya, dia tersenyum kepadaku. Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Mungkin hanya beberapa detik, tiba-tiba dia memalingkan wajahnya dan pergi menjauhiku. Dia pergi begitu saja. Sepertinya dia tak tahu kemana harus melangkah. Awalnya ke kiri, lalu ke kanan, sesekali dia menengok ke arahku sampai berkali-kali. Kadang aku merasa dia akan kembali. Tapi ternyata dia tetap melanjutkan langkahnya, entah akan kemana.
Rupanya kali ini dia melangkah terlalu jauh, hingga aku benar-benar tak bisa melihatnya lagi. Apakah dia hanya sebatas ilusi? Tapi kenapa hingga saat ini aku masih tetap bisa mengingat wajahnya? Mengingat senyumnya yang kaku dan hanya bisa membisu. Sebenarnya dia ini siapa? Kenapa dia tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi dengan sesuka hati?
Ku tengokkan wajahku ke kiri dan ke kanan, rupanya ada sesosok manusia melambaikan tangan dari arah belakang. Dia tersenyum kaku, menatap dengan tajam. Aku tak tahu persis dia tersenyum untuk siapa. Tapi aku tahu matanya menatap ke arahku. Rupanya dia semakin mendekat. Seolah ingin menyapa. Dengan mantap dia melangkah. Tapi aku hanya terdiam. Dan hanya bisa diam. Wajahnya mulai terlihat jelas, namun senyumnya semakin kaku.
Kini dia ada di hadapanku. Menatapku. Ya, dia tersenyum kepadaku. Tapi tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Mungkin hanya beberapa detik, tiba-tiba dia memalingkan wajahnya dan pergi menjauhiku. Dia pergi begitu saja. Sepertinya dia tak tahu kemana harus melangkah. Awalnya ke kiri, lalu ke kanan, sesekali dia menengok ke arahku sampai berkali-kali. Kadang aku merasa dia akan kembali. Tapi ternyata dia tetap melanjutkan langkahnya, entah akan kemana.
Rupanya kali ini dia melangkah terlalu jauh, hingga aku benar-benar tak bisa melihatnya lagi. Apakah dia hanya sebatas ilusi? Tapi kenapa hingga saat ini aku masih tetap bisa mengingat wajahnya? Mengingat senyumnya yang kaku dan hanya bisa membisu. Sebenarnya dia ini siapa? Kenapa dia tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi dengan sesuka hati?
Kamis, 26 Maret 2015
Nikah?
Sekarang usiaku sudah menginjak kepala 2 pemirsah. Awalnya aku kira kepala 2 itu artinya punya anak 2, ternyata setelah aku tahu kepala 2 itu maksudnya usia 20 tahunan. Kalo kepala 4 ya 40 tahunan. Oon banget yah aku waktu itu? Tapi ah namanya juga hidup, diawali dari ketidaktahuan kemudian diwarnai dengan pengetahuan. Dengan bertambahnya usiaku, maka berkuranglah jatah hidupku.
Dulu waktu SD, topik obrolanku sama teman yaa seputar boneka Barbie sama masak-masakan. Jadi inget, dulu setiap hari Sabtu, setelah pulang sekolah kita suka maen di kolam ikan deket sungai. Orang Ciamis menyebutnya “lebak”. Biasanya kita suka membawa baju, tas dan sepatu yang kotor untuk dicuci rame-rame di kali, sambil nangkap remis. Abis itu pulangnya kita masak nasi liwet dan remis hasil tangkapan kerja keras selama di lebak.
Menginjak SMP, kita udah mulai “beger” alias pubertas. Banyak diantara kita yang udah mulai berani pacar-pacaran. Karena waktu itu aku belum dibeliin hape sama orang tua, jadi kalo ada kakak kelas atau temen cowok yang naksir, terus minta nomor hape ya aku kasih aja nomor hape si ibu. Akhirnya mereka smsan sama ibu aku deh hahaha. Padahal sebelumnya udah aku kasih tahu kalo itu adalah nomor ibu, bukan nomor aku. Eeh keukeuh ngesms sampe nelpon segala. Mau macarin ibu aku sugan?
Waktu SMA… duh no coment ah yang bagian ini mah. Skip aja yaa hahahaha. Langsung lanjut ke masa-masa perkuliahan deh. Hmmm akhirnya aku disebut mahasiswa juga yah. Berasa bangga, tapi tanggung jawabnya juga gede. Kata “maha” kan biasanya cuma kepunyaan Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan 99 Asma’ul Husna lainnya. Jadi sebenarnya berat banget memiliki gelar mahasiswa tuh.
Tapi terlepas dari semua itu, aku pengen cerita soal topik yang sering dibicarain mahasiswa. Gak di kampus, gak di kosan, gak di tempat liqo (semacam mentoring gitu) semuanya ngomongin seputar nikah dan jodoh. Apalagi di tempat liqo, soalnya ada beberapa teman seangkatan yang udah nikah. Aku juga sempet kepikiran buat cepet nyusul sih, yaa kuliah sambil nikah gitu deh hahaha. Tapi… entahlah, gimana Allah ngasih jodohnya aja. Soalnya kalo dipikir-pikir, nikah itu satu kali buat seumur hidup. Berarti kita seumur hidup bakal ketemu sama si doi. Gak kebayang tar pas berantem masa mau maen cakar-cakaran atau jambak-jambakan sih? Terus kan salah satu konsekuensi menikah itu hamil, melahirkan, dan punya anak. Jadi harus bener-bener siap secara fisik dan psikis.
Kalo topik nikah di area kosan, suka bodor. Jadi ceritanya, mereka lagi ngerjain tugas numpuuuuk banget, atau lagi menghadapi UTS & UAS. Terus ngeluh dan bilang, “Adek lelah nih bang, nikahin adek sekarang dong!” Parah banget kan? Lah dia pikir nikah itu cuma akad nikah, resepsi, terus malam pertama doang? Ya enggak lah, justru kehidupan setelah menikah itu yang gede banget konsekuensinya. Emang pacaran, kalo udah gak cinta yaa ke laut aja, terus cari pacar lagi. Hiiiiy semurah itu kah yang namanya pacaran?
Kalo topik nikah di kalangan temen kampus beda lagi. Kita panggil aja si doi Mawar, nah si Mawar ini sering banget bilang, “Kamu cepetan nikah dong! Nanti kita maen ke rumah kamu pake baju seragaman, didandanin, terus jadi pagar ayunya”. Dia bilang gitu hampir ke semua orang (khususnya yang deket sama dia). Jadi heran, kenapa gak dianya aja yang duluan nikah yah? Ko nyuruh-nyuruh orang, proyeksi banget itu hahahah.
Ada juga yang udah punya target nikah, izin nikah muda dari orang tua udah ada, biaya sedang dipersiapkan, udah mulai ngeceng-ngeceng gedung, pesanan catering, rias pengantin, sama desain undangan. Yaa kalo diitung-itung persiapannya udah mencapai 90% lah. Tahu gak 10% lagi yang belum ada apaan? Calonnya pemirsah, belum ada! Hahahahaha yang ini parah banget.
Terakhir, mentang-mentang udah mahasiswa alias bukan siswa lagi. Temen-temen SMA kalo ada yang ulang tahun, terus pada ngucapin di grup, doa utamanya adalah “Semoga cepet dapet jodoh, cepet nikah, dan cepet punya momongan yaa”. Duh gimana kalo udah kerja ya, masih kuliah aja doanya udah gituan hahaha. Yaa terlepas dari semua itu, semoga Allah selalu menakdirkan kebaikan untuk kita dan menjadikan kita ridho menerimanya. Amiin
“Wallahualam
Dulu waktu SD, topik obrolanku sama teman yaa seputar boneka Barbie sama masak-masakan. Jadi inget, dulu setiap hari Sabtu, setelah pulang sekolah kita suka maen di kolam ikan deket sungai. Orang Ciamis menyebutnya “lebak”. Biasanya kita suka membawa baju, tas dan sepatu yang kotor untuk dicuci rame-rame di kali, sambil nangkap remis. Abis itu pulangnya kita masak nasi liwet dan remis hasil tangkapan kerja keras selama di lebak.
Menginjak SMP, kita udah mulai “beger” alias pubertas. Banyak diantara kita yang udah mulai berani pacar-pacaran. Karena waktu itu aku belum dibeliin hape sama orang tua, jadi kalo ada kakak kelas atau temen cowok yang naksir, terus minta nomor hape ya aku kasih aja nomor hape si ibu. Akhirnya mereka smsan sama ibu aku deh hahaha. Padahal sebelumnya udah aku kasih tahu kalo itu adalah nomor ibu, bukan nomor aku. Eeh keukeuh ngesms sampe nelpon segala. Mau macarin ibu aku sugan?
Waktu SMA… duh no coment ah yang bagian ini mah. Skip aja yaa hahahaha. Langsung lanjut ke masa-masa perkuliahan deh. Hmmm akhirnya aku disebut mahasiswa juga yah. Berasa bangga, tapi tanggung jawabnya juga gede. Kata “maha” kan biasanya cuma kepunyaan Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan 99 Asma’ul Husna lainnya. Jadi sebenarnya berat banget memiliki gelar mahasiswa tuh.
Tapi terlepas dari semua itu, aku pengen cerita soal topik yang sering dibicarain mahasiswa. Gak di kampus, gak di kosan, gak di tempat liqo (semacam mentoring gitu) semuanya ngomongin seputar nikah dan jodoh. Apalagi di tempat liqo, soalnya ada beberapa teman seangkatan yang udah nikah. Aku juga sempet kepikiran buat cepet nyusul sih, yaa kuliah sambil nikah gitu deh hahaha. Tapi… entahlah, gimana Allah ngasih jodohnya aja. Soalnya kalo dipikir-pikir, nikah itu satu kali buat seumur hidup. Berarti kita seumur hidup bakal ketemu sama si doi. Gak kebayang tar pas berantem masa mau maen cakar-cakaran atau jambak-jambakan sih? Terus kan salah satu konsekuensi menikah itu hamil, melahirkan, dan punya anak. Jadi harus bener-bener siap secara fisik dan psikis.
Kalo topik nikah di area kosan, suka bodor. Jadi ceritanya, mereka lagi ngerjain tugas numpuuuuk banget, atau lagi menghadapi UTS & UAS. Terus ngeluh dan bilang, “Adek lelah nih bang, nikahin adek sekarang dong!” Parah banget kan? Lah dia pikir nikah itu cuma akad nikah, resepsi, terus malam pertama doang? Ya enggak lah, justru kehidupan setelah menikah itu yang gede banget konsekuensinya. Emang pacaran, kalo udah gak cinta yaa ke laut aja, terus cari pacar lagi. Hiiiiy semurah itu kah yang namanya pacaran?
Kalo topik nikah di kalangan temen kampus beda lagi. Kita panggil aja si doi Mawar, nah si Mawar ini sering banget bilang, “Kamu cepetan nikah dong! Nanti kita maen ke rumah kamu pake baju seragaman, didandanin, terus jadi pagar ayunya”. Dia bilang gitu hampir ke semua orang (khususnya yang deket sama dia). Jadi heran, kenapa gak dianya aja yang duluan nikah yah? Ko nyuruh-nyuruh orang, proyeksi banget itu hahahah.
Ada juga yang udah punya target nikah, izin nikah muda dari orang tua udah ada, biaya sedang dipersiapkan, udah mulai ngeceng-ngeceng gedung, pesanan catering, rias pengantin, sama desain undangan. Yaa kalo diitung-itung persiapannya udah mencapai 90% lah. Tahu gak 10% lagi yang belum ada apaan? Calonnya pemirsah, belum ada! Hahahahaha yang ini parah banget.
Terakhir, mentang-mentang udah mahasiswa alias bukan siswa lagi. Temen-temen SMA kalo ada yang ulang tahun, terus pada ngucapin di grup, doa utamanya adalah “Semoga cepet dapet jodoh, cepet nikah, dan cepet punya momongan yaa”. Duh gimana kalo udah kerja ya, masih kuliah aja doanya udah gituan hahaha. Yaa terlepas dari semua itu, semoga Allah selalu menakdirkan kebaikan untuk kita dan menjadikan kita ridho menerimanya. Amiin
“Wallahualam
Sabtu, 21 Maret 2015
Zaman Edan, Katanya
Sekarang ini, kita hidup di zaman orang nyuci bisa sambil masak. Orang bisa ngobrol tanpa ketemu langsung sama yang diajak ngobrol. Pulang pergi ke luar negeri cuma hitungan jam. Ya, kita hidup di zaman yang serba canggih. Maen ke rumah temen gak usah ngetok pintu dulu, cukup telpon aja atau nge-ping di bbm. Kerja kelompok gak usah ngumpul bareng di bawah pohon rindang atau di rumah temen sambil numpang makan gratis (rejeki anak kosan), cukup ngirim materi via email. Beli baju gak usah capek-capek pergi ke mall atau ke tanah abang, cukup beli di online shop aja. Tinggal pilih, pesan, lalu 3 hari kemudian barang udah nyampe di depan rumah.
Sekarang itu zamannya ngepoin orang gak usah nanya temen, cukup buka social media kita bisa tahu semuanya. Kalo marah sama orang gak perlu ngedatengin rumahnya, cukup serang aja dia lewat status. Pengen ngetren juga sekarang mah gampang, tinggal bikin video gokil di youtub ato ngejelekin orang di twitter esok harinya langsung jadi trending topic. Pengen tahu kehidupan selebritis gak usah nunggu berita di infotainment, cukup buka instagramnya kita bakal tahu aktifitas dia dan siapa aja orang-orang terdekatnya. Dijamin, informasi yang kita dapet bakal lebih lengkap, aktual, tajam, dan terpercaya.
Sekarang itu zamannya anak kecil udah gak pernah lagi nyanyiin lagu bintang kecil, pelangi-pelangi, dan naik-naik ke puncak gunung. Tapi lagu mereka sekarang adalah sakitnya tuh disini, cintaku klepek-klepek sama dia, goyang dumang, sama kawin lagi suamiku istrinya baru lagi. Lagu tuk-tik-tak-tik-tuk suara sepatu kuda aja sekarang udah diganti sama cuk-ki-cak-ki-cuk kereta malam. Keren kan? Anak sekarang maenannya gadget, aku sih dulu maenannya tanah sama air. Anak sekarang udah pinter download game, aku sih dulu pinter maen petak umpet.
Katanya, sekarang itu zaman udah edan. Nenek-nenek ngambil kayu bakar dimasukin penjara sama anaknya sendiri. Sedangkan koruptor? Zaman sekarang tuh katanya orang jujur bakal susah dapet kerja, bakal susah naik jabatan, dan bakal susah jadi orang kaya. Mangkanya jadi orang jangan terlalu jujur, naïf banget sih loh! Padahal buat apa punya kerja, jabatan tinggi, dan uang banyak kalo ujung-ujungnya masuk penjara, eeeh pas udah mati di akhirat masuk neraka.
Sekarang itu zamannya rebutan jadi pejabat dan pemimpin Negara, gak peduli sikut sana sikut sini, fitnah sana fitnah sini. Masih inget kan pemilu kemaren? Bangsa Indonesia mendadak terbelah menjadi dua kubu. Perang mulut, perang status, sampai perang fisik. Padahal waktu zaman Rasul, orang itu ogah-ogahan jadi pemimpin. Tanggung jawabnya gede bro! Rakyat Indonesia itu ratusan juta loh, emang Bapak sanggup mempertanggung jawabkan semuanya di hadapan Allah nanti? Sekarang aja, rakyat udah mendemo, gimana entar?
Sekarang itu zamannya cewek pake baju anak TK, kurang bahan, bahkan bisa dibilang compang-camping. Cowok pake celana kekecilan, kayaknya sih itu celana dibeli pas dia berat badannya masih 50 kg, tapi ko masih dipake aja yaa padahal sekarang berat badannya udah 80 kg. Sekarang itu pacaran udah merupakan keharusan, kalo enggak berarti lo gak laku. Sekarang itu zamannya nikah dengan mas kawin anak dalam kandungan, alias MBA. Yaa kawin-cerai sih udah biasa, KDRT makanan sehari-hari.
Zaman sekarang tuh, anak baik-baik ditanya kenapa gak ngelakuin zina? Jawabannya takut hamil, takut dipecat jadi anak, dikeluarin dari sekolah, masa depan hancur, dan takut kena penyakit menular seks. Emang mereka gak takut sama azab Allah? Ya itulah zaman sekarang, zaman dimana teknologi semakin canggih, tapi iman semakin melempem. Zaman dimana mereka ngerasa bakal hidup selamanya, dan lupa bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Sekarang itu zamannya ngepoin orang gak usah nanya temen, cukup buka social media kita bisa tahu semuanya. Kalo marah sama orang gak perlu ngedatengin rumahnya, cukup serang aja dia lewat status. Pengen ngetren juga sekarang mah gampang, tinggal bikin video gokil di youtub ato ngejelekin orang di twitter esok harinya langsung jadi trending topic. Pengen tahu kehidupan selebritis gak usah nunggu berita di infotainment, cukup buka instagramnya kita bakal tahu aktifitas dia dan siapa aja orang-orang terdekatnya. Dijamin, informasi yang kita dapet bakal lebih lengkap, aktual, tajam, dan terpercaya.
Sekarang itu zamannya anak kecil udah gak pernah lagi nyanyiin lagu bintang kecil, pelangi-pelangi, dan naik-naik ke puncak gunung. Tapi lagu mereka sekarang adalah sakitnya tuh disini, cintaku klepek-klepek sama dia, goyang dumang, sama kawin lagi suamiku istrinya baru lagi. Lagu tuk-tik-tak-tik-tuk suara sepatu kuda aja sekarang udah diganti sama cuk-ki-cak-ki-cuk kereta malam. Keren kan? Anak sekarang maenannya gadget, aku sih dulu maenannya tanah sama air. Anak sekarang udah pinter download game, aku sih dulu pinter maen petak umpet.
Katanya, sekarang itu zaman udah edan. Nenek-nenek ngambil kayu bakar dimasukin penjara sama anaknya sendiri. Sedangkan koruptor? Zaman sekarang tuh katanya orang jujur bakal susah dapet kerja, bakal susah naik jabatan, dan bakal susah jadi orang kaya. Mangkanya jadi orang jangan terlalu jujur, naïf banget sih loh! Padahal buat apa punya kerja, jabatan tinggi, dan uang banyak kalo ujung-ujungnya masuk penjara, eeeh pas udah mati di akhirat masuk neraka.
Sekarang itu zamannya rebutan jadi pejabat dan pemimpin Negara, gak peduli sikut sana sikut sini, fitnah sana fitnah sini. Masih inget kan pemilu kemaren? Bangsa Indonesia mendadak terbelah menjadi dua kubu. Perang mulut, perang status, sampai perang fisik. Padahal waktu zaman Rasul, orang itu ogah-ogahan jadi pemimpin. Tanggung jawabnya gede bro! Rakyat Indonesia itu ratusan juta loh, emang Bapak sanggup mempertanggung jawabkan semuanya di hadapan Allah nanti? Sekarang aja, rakyat udah mendemo, gimana entar?
Sekarang itu zamannya cewek pake baju anak TK, kurang bahan, bahkan bisa dibilang compang-camping. Cowok pake celana kekecilan, kayaknya sih itu celana dibeli pas dia berat badannya masih 50 kg, tapi ko masih dipake aja yaa padahal sekarang berat badannya udah 80 kg. Sekarang itu pacaran udah merupakan keharusan, kalo enggak berarti lo gak laku. Sekarang itu zamannya nikah dengan mas kawin anak dalam kandungan, alias MBA. Yaa kawin-cerai sih udah biasa, KDRT makanan sehari-hari.
Zaman sekarang tuh, anak baik-baik ditanya kenapa gak ngelakuin zina? Jawabannya takut hamil, takut dipecat jadi anak, dikeluarin dari sekolah, masa depan hancur, dan takut kena penyakit menular seks. Emang mereka gak takut sama azab Allah? Ya itulah zaman sekarang, zaman dimana teknologi semakin canggih, tapi iman semakin melempem. Zaman dimana mereka ngerasa bakal hidup selamanya, dan lupa bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Selasa, 17 Maret 2015
Hanya Sebatas Persepsi
Diawali dengan stimulus yang masuk, kemudian diolah dalam otak, sehingga ia memiliki makna. Itulah persepsi. Persepsi adalah pemaknaan. Dan cara kita memaknakan suatu stimulus, tergantung dari sudut mana kita melihat. Stimulus yang sama, dalam ruang dan waktu yang sama, ternyata bisa dipersepsi beda-beda oleh orang yang berbeda. Itulah uniknya manusia.
Carl Rogers dalam teori humanistiknya pernah berkata bahwa manusia menanggapi dunia sesuai dengan persepinya, realitas hanya sebatas persepsi subjektif yang mungkin berbeda dengan fakta sebenarnya.
Ya, hanya persepsi. Selama ini yang aku rasakan, yang aku pikir itu sesuatu yang special pun sepertinya hanya sebatas persepsiku saja. Faktanya, nothing! Kadang kita terlalu cepat menilai dan menyimpulkan sesuatu yang belum tentu, so hasilnya pun jelas gak akan valid.
Kita sebagai mahasiswa selalu dididik agar berpikir rasional, ilmiah, dan objektif. Ketika akan melakukan penelitian, awali dengan melihat fenomena di lapangan, jika menemukan masalah, selanjutnya buat latar belakang masalah, kemudian diidentifikasi, dan dibuat hipotesisnya. Nah biasanya cewek mentok di hipotesis. Padahal itu kan hanya dugaan sementara. Harusnya setelah membuat hipotesis, dilanjut lagi dengan mencari teori penunjang, ambil data, kemudian dianalisis, setelah semuanya dilalui, baru kita tarik kesimpulan.
Kalau prosesnya sesistematis kaya langkah penelitian di atas, dijamin ketika ada orang yang bertanya, jawaban kita pasti rasional, ilmiah, dan objektif. Apalagi kalo dosen yang nanya. Kita bakalan bisa mempertahankan argument karena punya alasan yang kuat, apalagi berdasarkan teori dari para ahli.
Sayangnya, di dunia nyata semua yang kita lalui mengalir begitu saja. Gak ada perencanaan, apalagi sampai nyari-nyari teori. Tapi intinya tetap sama. Dalam menilai sesuatu jangan mentok di hipotesis, karena itu hanya dugaan sementara. Kalo mau nyimpulin harus bener-bener dianalisis dulu sesuai fakta dan data yang diperoleh.
Jadi, cewek gak bisa terus-terusan ngenilai cowok sebagai makhluk yang suka nge-PHP-in. Padahal mungkin cowok niatnya cuma bercanda, eh ceweknya malah kegeeran duluan. Buat para cowok juga, udah tahu cewek tuh emang dari sananya gampang geeran, pake dibercandain kaya gitu lagi. Pantes aja Pak Mario bilang kalo cewek itu selalu benar, sekalipun salah cowok adalah penyebabnya hahaha.
Sekali lagi, itu hanya sebatas persepsi. Entah siapa yang salah, entah persepsi mana yang keliru dalam memaknakan sesuatu. Buat para cewek, geer boleh-boleh aja, asal jangan kepedean. Apalagi kalo analisis kamu mentok di hipotesis, beuuuh gak banget deh. Geer boleh-boleh aja, asal jangan keterusan. Karena papahku pernah bilang, cowok yang serius suka sama kamu tandanya cuma satu, dia akan menemui orang tuamu dan bilang akan menikahimu.
Nah buat para cowok, bercanda boleh-boleh aja asalkan harus bisa jaga perasaan. Bercanda boleh-boleh aja, asal seputar Sule dan Andre. Artinya, tema candaan kamu yang umum-umum aja deh, jangan menjurus ke hal-hal yang bisa berpeluang buat bikin cewek geer. Karena selain pake logika, cowok juga harus pake perasaan.
#Wallahualam
Carl Rogers dalam teori humanistiknya pernah berkata bahwa manusia menanggapi dunia sesuai dengan persepinya, realitas hanya sebatas persepsi subjektif yang mungkin berbeda dengan fakta sebenarnya.
Ya, hanya persepsi. Selama ini yang aku rasakan, yang aku pikir itu sesuatu yang special pun sepertinya hanya sebatas persepsiku saja. Faktanya, nothing! Kadang kita terlalu cepat menilai dan menyimpulkan sesuatu yang belum tentu, so hasilnya pun jelas gak akan valid.
Kita sebagai mahasiswa selalu dididik agar berpikir rasional, ilmiah, dan objektif. Ketika akan melakukan penelitian, awali dengan melihat fenomena di lapangan, jika menemukan masalah, selanjutnya buat latar belakang masalah, kemudian diidentifikasi, dan dibuat hipotesisnya. Nah biasanya cewek mentok di hipotesis. Padahal itu kan hanya dugaan sementara. Harusnya setelah membuat hipotesis, dilanjut lagi dengan mencari teori penunjang, ambil data, kemudian dianalisis, setelah semuanya dilalui, baru kita tarik kesimpulan.
Kalau prosesnya sesistematis kaya langkah penelitian di atas, dijamin ketika ada orang yang bertanya, jawaban kita pasti rasional, ilmiah, dan objektif. Apalagi kalo dosen yang nanya. Kita bakalan bisa mempertahankan argument karena punya alasan yang kuat, apalagi berdasarkan teori dari para ahli.
Sayangnya, di dunia nyata semua yang kita lalui mengalir begitu saja. Gak ada perencanaan, apalagi sampai nyari-nyari teori. Tapi intinya tetap sama. Dalam menilai sesuatu jangan mentok di hipotesis, karena itu hanya dugaan sementara. Kalo mau nyimpulin harus bener-bener dianalisis dulu sesuai fakta dan data yang diperoleh.
Jadi, cewek gak bisa terus-terusan ngenilai cowok sebagai makhluk yang suka nge-PHP-in. Padahal mungkin cowok niatnya cuma bercanda, eh ceweknya malah kegeeran duluan. Buat para cowok juga, udah tahu cewek tuh emang dari sananya gampang geeran, pake dibercandain kaya gitu lagi. Pantes aja Pak Mario bilang kalo cewek itu selalu benar, sekalipun salah cowok adalah penyebabnya hahaha.
Sekali lagi, itu hanya sebatas persepsi. Entah siapa yang salah, entah persepsi mana yang keliru dalam memaknakan sesuatu. Buat para cewek, geer boleh-boleh aja, asal jangan kepedean. Apalagi kalo analisis kamu mentok di hipotesis, beuuuh gak banget deh. Geer boleh-boleh aja, asal jangan keterusan. Karena papahku pernah bilang, cowok yang serius suka sama kamu tandanya cuma satu, dia akan menemui orang tuamu dan bilang akan menikahimu.
Nah buat para cowok, bercanda boleh-boleh aja asalkan harus bisa jaga perasaan. Bercanda boleh-boleh aja, asal seputar Sule dan Andre. Artinya, tema candaan kamu yang umum-umum aja deh, jangan menjurus ke hal-hal yang bisa berpeluang buat bikin cewek geer. Karena selain pake logika, cowok juga harus pake perasaan.
#Wallahualam
Si Manis Manja
Kenalin aku Riksa, panggil aja Kokom. Ceritanya aku lagi merantau di sebuah Kota yang lumayan terkenal lah. Itu loh yang wali kotanya sering dibicarain di televisi maupun di media social. Warga Bandung biasanya manggil beliau Kang Emil. Kebijakan-kebijakan beliau itu bikin gebrakan baru, katanya. Salah satu gebrakannya adalah bikin Taman Jomblo, Taman Lansia, Taman Film, de el el.
Nah si Kokom ini ceritanya tinggal di Bandung itu ngekos. Kokom satu kosan sama panggil aja namanya Edoh, Entin, Icih, dan Eha. Ini bukan nama samaran ya, tapi emang faktanya nama-nama yang disebutkan tadi adalah panggilan sayang. Kita membentuk sebuah geng yang dinamakan Si Manis Manja, disponsori oleh ibu-ibu sosialita asal Cicaheum. Masing-masing dari kita punya kebiasaan unik yang gak mungkin dimiliki manusia biasa, terkecuali oleh 7 Manusia Harimau.
Edoh. Dia ini sejenis manusia yang suka banget makan mie instan pake irisan bawang daun. Suatu malam, dia pengen makan mie instan pake sayur, dan kamu tahu sayur yang dia masak sama mie instan itu apa? Leunca. Tau gak leunca? Sejenis sayur bentuknya bulat segede sukro, warnanya ijo keungu-unguan, rasanya pahit, dan kata dia itu tuh enak banget. Keunikan lainnya, dia kalo tidur susah banget dibangunin. Alarm sekeras apapun dan selama apapun alarm itu berbunyi, dia tetep gak akan bangun. Tapi ketika ada suara bbm masuk, walaupun segitu pelannya, dia langsung bangun buat ngecek hape.
Entin. Manusia yang satu ini hobinya galau mulu. Diam-diam cicing. Dibilang kalem da enggak, dibilang jutek juga enggak. Orangnya sulit ditebak. Jujur, aku sampe gak bisa ngebedain kapan saat dia diem karena bener-bener galau dan kapan saat dia diem tapi gak punya masalah. Nah si Entin ini kalo pengen pipis, dia suka tiba-tiba masuk ke kamar aku dan bilang, “Ceu Kokom, hoyong pipis euy”. Lah dia kira muka aku muka WC apa? Ko pengen pipis malah nyamperin aku, bukannya masuk WC. Dan setiap jam 9 malam, si Entin suka ngabsen makanan. Sampe pernah waktu itu aku lagi tiduran, dia tiba-tiba masuk ke kamar terus bilang, “Kom, pengen kwetiau, seblak, batagor, siomay, nasgor, mi goreng, baso, gorengan, capcay, pempek, cuanki, cilok, daaaaaan masih banyak lagi sampe keriting kayanya kalo aku ketik di sini. Uniknya dia tuh ngabsen makanan-makanan tadi tanpa jeda, mungkin saking sudah lancarnya kali ya.
Icih. Dia ini tipikel orang yang ekspresif, kebalikannya dari si Entin. Kalo dia, apa-apa diomongin, apa-apa diceritain. Aku sampe hafal siapa aja temen-temen kampusnya. Padahal kita gak sekampus loh. Dia ini kalo cerita kaya orang yang lagi maen kabaret. Bercerita pake ekspresi, gesture, dan suara yang didramatisir. Si Icih suka banget makan bubur. Sampe pernah seharian itu dia sarapan, makan siang, sampe makan malam menunya adalah bubur. Terus dia juga tiap kali mau ke WC pasti mampir dulu ke kamar aku, ato enggak dia bukain pintu, terus ngeliat aku lagi ngapain, abis itu di tutup lagi. Entah karena kamar aku yang deket WC atau karena aku emang orangnya ngangenin, sampe ditengok mulu.
Eha. Dia ini sejenis manusia yang suka banget makan sate. Perasaan tiap malam, menunya sate mulu. Uyuhan we teu bosen. Kalo kata aku dia ini kaya kelelawar. Di saat kita udah mau tidur, dia justru sibuk masak nasi sama nyiapin makan malam. Terus gak lama kemudian dia masuk WC sambil bawa handuk dan seperangkat alat mandi. Katanya sih cuma mau cuci muka sama gosok gigi. Tapi perlengkapan yang dia bawa itu loh, kaya yang mau mandi aja. Hobi Ceu Eha ini adalah nyanyi. Kosan kita tuh udah dia anggap seperti tempat karoke dan udah kaya milik dia seorang. Suaranya itu loooooh, beuuuuuh Agnes Monica mah lewaaaat hahaha.
Kokom. Duh jadi malu kalo ngomongin diri sendiri. Si Kokom ini adalah penjual pulsa. Dia sampe masangin iklan “Sedia Pulsa” di pintu kamarnya. Dia juga suka nulis-nulis di dinding. Entah itu masang target, rencana hidup, jadwal kuliah, tugas kuliah, kata-kata motivasi, de el el. Kamarnya udah kaya papan mading aja, rame sama tulisan. Tiap orang yang masuk kamar si Kokom pasti bakal tertawa, apalagi pas baca tulisan terget dan rencana hidup. Si Kokom terkenal suka makan dan lebay. Apapun makanannya dia suka, bahkan dia ini kaya tong sampah yang selalu melakukan “pembersihan” dengan alasan mubadzir. Jenis diet apapun gak bakal mempan dia lakonin, karena mulutnya itu gak bisa diem selalu pengen ngemil. Dia juga orangnya lebay, salah satu contohnya dia pernah nyanyi dengan nada yang kemana-mana (fals tingkat dewa) di voice note terus dikirim ke beberapa teman.
Udah lah intinya mah anggota geng Si Manis Manja itu gak ada yang bener, absurd semua. Dengan segala kebiasaan dan keunikan yang mereka punya, justru di situlah titik awal kita untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Cita-cita kita tuh pengen jadi istri arsitek, dokter, pilot, insinyur, bahkan jadi istrinya bupati Majalengka, entah periode yang ke berapa. Duh da kita mah hidupnya teh penuh dengan khayalan. Tapi segala sesuatu emang awalnya kan dari mimpi. Iya gak sih?
Nah si Kokom ini ceritanya tinggal di Bandung itu ngekos. Kokom satu kosan sama panggil aja namanya Edoh, Entin, Icih, dan Eha. Ini bukan nama samaran ya, tapi emang faktanya nama-nama yang disebutkan tadi adalah panggilan sayang. Kita membentuk sebuah geng yang dinamakan Si Manis Manja, disponsori oleh ibu-ibu sosialita asal Cicaheum. Masing-masing dari kita punya kebiasaan unik yang gak mungkin dimiliki manusia biasa, terkecuali oleh 7 Manusia Harimau.
Edoh. Dia ini sejenis manusia yang suka banget makan mie instan pake irisan bawang daun. Suatu malam, dia pengen makan mie instan pake sayur, dan kamu tahu sayur yang dia masak sama mie instan itu apa? Leunca. Tau gak leunca? Sejenis sayur bentuknya bulat segede sukro, warnanya ijo keungu-unguan, rasanya pahit, dan kata dia itu tuh enak banget. Keunikan lainnya, dia kalo tidur susah banget dibangunin. Alarm sekeras apapun dan selama apapun alarm itu berbunyi, dia tetep gak akan bangun. Tapi ketika ada suara bbm masuk, walaupun segitu pelannya, dia langsung bangun buat ngecek hape.
Entin. Manusia yang satu ini hobinya galau mulu. Diam-diam cicing. Dibilang kalem da enggak, dibilang jutek juga enggak. Orangnya sulit ditebak. Jujur, aku sampe gak bisa ngebedain kapan saat dia diem karena bener-bener galau dan kapan saat dia diem tapi gak punya masalah. Nah si Entin ini kalo pengen pipis, dia suka tiba-tiba masuk ke kamar aku dan bilang, “Ceu Kokom, hoyong pipis euy”. Lah dia kira muka aku muka WC apa? Ko pengen pipis malah nyamperin aku, bukannya masuk WC. Dan setiap jam 9 malam, si Entin suka ngabsen makanan. Sampe pernah waktu itu aku lagi tiduran, dia tiba-tiba masuk ke kamar terus bilang, “Kom, pengen kwetiau, seblak, batagor, siomay, nasgor, mi goreng, baso, gorengan, capcay, pempek, cuanki, cilok, daaaaaan masih banyak lagi sampe keriting kayanya kalo aku ketik di sini. Uniknya dia tuh ngabsen makanan-makanan tadi tanpa jeda, mungkin saking sudah lancarnya kali ya.
Icih. Dia ini tipikel orang yang ekspresif, kebalikannya dari si Entin. Kalo dia, apa-apa diomongin, apa-apa diceritain. Aku sampe hafal siapa aja temen-temen kampusnya. Padahal kita gak sekampus loh. Dia ini kalo cerita kaya orang yang lagi maen kabaret. Bercerita pake ekspresi, gesture, dan suara yang didramatisir. Si Icih suka banget makan bubur. Sampe pernah seharian itu dia sarapan, makan siang, sampe makan malam menunya adalah bubur. Terus dia juga tiap kali mau ke WC pasti mampir dulu ke kamar aku, ato enggak dia bukain pintu, terus ngeliat aku lagi ngapain, abis itu di tutup lagi. Entah karena kamar aku yang deket WC atau karena aku emang orangnya ngangenin, sampe ditengok mulu.
Eha. Dia ini sejenis manusia yang suka banget makan sate. Perasaan tiap malam, menunya sate mulu. Uyuhan we teu bosen. Kalo kata aku dia ini kaya kelelawar. Di saat kita udah mau tidur, dia justru sibuk masak nasi sama nyiapin makan malam. Terus gak lama kemudian dia masuk WC sambil bawa handuk dan seperangkat alat mandi. Katanya sih cuma mau cuci muka sama gosok gigi. Tapi perlengkapan yang dia bawa itu loh, kaya yang mau mandi aja. Hobi Ceu Eha ini adalah nyanyi. Kosan kita tuh udah dia anggap seperti tempat karoke dan udah kaya milik dia seorang. Suaranya itu loooooh, beuuuuuh Agnes Monica mah lewaaaat hahaha.
Kokom. Duh jadi malu kalo ngomongin diri sendiri. Si Kokom ini adalah penjual pulsa. Dia sampe masangin iklan “Sedia Pulsa” di pintu kamarnya. Dia juga suka nulis-nulis di dinding. Entah itu masang target, rencana hidup, jadwal kuliah, tugas kuliah, kata-kata motivasi, de el el. Kamarnya udah kaya papan mading aja, rame sama tulisan. Tiap orang yang masuk kamar si Kokom pasti bakal tertawa, apalagi pas baca tulisan terget dan rencana hidup. Si Kokom terkenal suka makan dan lebay. Apapun makanannya dia suka, bahkan dia ini kaya tong sampah yang selalu melakukan “pembersihan” dengan alasan mubadzir. Jenis diet apapun gak bakal mempan dia lakonin, karena mulutnya itu gak bisa diem selalu pengen ngemil. Dia juga orangnya lebay, salah satu contohnya dia pernah nyanyi dengan nada yang kemana-mana (fals tingkat dewa) di voice note terus dikirim ke beberapa teman.
Udah lah intinya mah anggota geng Si Manis Manja itu gak ada yang bener, absurd semua. Dengan segala kebiasaan dan keunikan yang mereka punya, justru di situlah titik awal kita untuk mencapai masa depan yang lebih cerah. Cita-cita kita tuh pengen jadi istri arsitek, dokter, pilot, insinyur, bahkan jadi istrinya bupati Majalengka, entah periode yang ke berapa. Duh da kita mah hidupnya teh penuh dengan khayalan. Tapi segala sesuatu emang awalnya kan dari mimpi. Iya gak sih?
Langganan:
Postingan (Atom)