Senin, 03 Agustus 2015

ORIENTASI (Tanda Tanya)

Masa orientasi, ospek, pengenalan kampus atau apapun itu mereka menyebutnya, yaitu sebuah kegiatan pada awal tahun pelajaran baru yang bertujuan untuk mengenalkan peserta didik baru di lingkungan dan suasan baru. Selama ini kita mengenal kegiatan orientasi, peserta didik terlihat aneh-aneh. Peserta didik dibuat telihat sangat jelek. Katanya perlakukan seperti ini melatih peserta didik supaya tidak malu dan gengsi terhadap masyarakat walaupun menggunakan perlengkapan yang aneh-aneh, dan menyamaratakan peserta didik supaya tidak membedakan antara yang kaya dan miskin. Tapi apakah ini tidak membuat mereka malah terlihat hina? Oleh siapa? Selain itu, perlakuan dari panitia kegiatan ini ataupun penyelenggara menerapkan perlakuan untuk melatih mental peserta didik baru. Dimana ini yang menjadi sosok menakutkan bagi peserta didik baru untuk mengikuti kegiatan orientasi. Terkadang peserta didik dikumpulkan di tempat yang luas, mereka dibentak-bentak, dimarahi, bahkan ada perlakuan fisik dari panitia atau para senior mereka. Tentu ini tidak jauh dari kegiatan militer. Belum lagi mereka harus datang sangat pagi dan pulang sore sekali. Banyak lagi hal-hal lainnya yang tidak perlu saya jelaskan lagi, karena sepertinya kita semua sudah mengetahuinya. Dan saya akan bercerita tentang masa orientasi pada mahasiswa baru.

Masa orientasi setiap jenjang pendidikan terlihat selalu sama. Apakah bisa disamakan memperlakukan siswa SMP dengan siswa SMA? Apakah bisa disamakan memperlakukan siswa SMA dengan mahasiswa? Tapi apakah masa orientasi juga harus seperti itu? Suatu hari saya menonton sebuah film yang bercerita tentang peristiwa pada Perang Dunia II. Disana dicerikan, singkatnya tentara angkatan udara yang pesawat perangnya mengalami kerusakan, terjatuh ke laut, hancur tapi pilotnya selamat dan akibatnya ia terjebak di lautan luas, kemudian ditemukan oleh pasukan tentara musuh. Sehingga si angkatan udara tersebut menjadi tawanan perang tentara musuh. Tawanan perang diperlakukan dengan seenaknya, mereka dipukuli, dijemur, diperintah untuk melakukan hal-hal diinginkan tentara musuh, apapun itu tawanan perang harus menurutinya. Sungguh membuat saya kaget, ternyata perlakuan terhadap tawanan perang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan kegiatann masa orientasi (banyak menyebutnya ospek) di negara kita. Ini menjadi perhatian bagi saya. Masa Orientasi merupakan suatu kegiatan menyambut peserta didik baru dan pengenalan kampus tanpa tekanan dan beban, juga memeperlakukan peserta didik secara manusiawi dan dituntun untuk menjadi seorang pemimpin, bukan takut bahkan tunduk kepada atasan seperti tawanan perang.

Dari pandangan saya, kegiatan orientasi yang dari waktu ke waktu dilakukan dengan sistem yang tidak jauh berbeda. Saya pun pernah merasakan kegiatan ini ditingkat universitas, akan tetapi hasil dari mengikuti kegiatantersebut saya tidak merasakan manfaat dan tujuan diadakan kegiatan ini, selain rasa lelah dan ide untuk menulis serta mendapatkan pandangan tentang ini. Bahkan saya tidak banyak mendapat pengetahuan tentang kampus yang saya tempati setelah kegiatan orientasi. Ruang Tata Usaha Fakultas saja, saya tidak tahu letaknya, sebelum akhirnya waktu yang memberi tahu saya. Saya berpendapat bahwa kegiatan orientasi ini merupakan sistem yang turun temurun dari zaman negara ini dijajah, sehingga sistem yang tercipta tidak jauh seperti saat perang. Selama saya menjadi mahasiswa banyak sekali orang, dosen, teman ataupun siapa itu yang mengatakan bahwa mahasiswa adalah agent of change (agen perubahan) dimana mahasiswa memiliki pemikiran kritis, solutif dalam menyelasaikan permasalahan, dan tentunya mempunyai semangat yang tinggi.

Saya sebagai mahasiswa ingin melakukan itu, tapi bukan turun ke jalan untuk membakar ban dan berteriak-teriak. Perubahan paling utama yang harus dilakukan adalah perubahan pada diri sendiri sebagai mahasiswa, dimana perubahan dapat dilakukan dengan menciptakan karakter baru mahasiswa. Dari pertama saya mengetahui kalimat “agent of change” memang pandangan saya mengartikan bahwa change in your self, akan terjadi perubahan dalam diri, dimana kita menjadi lebih dewasa, bijaksana, kritis dan solutif dalam memandang permasalahan. Tapi, banyak yang mengatakan, mengkritisi dan mempertanyakan peran mahasiswa sebagai agent of change karena tidak terlihat sering bahkan tidak pernah ada turun ke jalan. Ternyata pandangan saya berbeda, dan saya baru menyadarinya. Tapi, saya tetap teguh pada pandangan saya, karena saya tidak menyamakan dan tidak mengidentikkan mahasiswa seperti pada peristiwa 1998.

Perubahan yang ingin saya lakukan dan mengajak teman-teman semua yaitu untuk melakukan perubahan pada sistem orientasi kita, hanya perubahan kecil sebagai langkah awal dan butuh perjuangan serta dukungan untuk meneriakan ini. Kita tidak harus membuntut pada sistem yang sudah ada, ketika sistem perlu diperbaiki, kenapa tidak dilakukan. Jangan sampai terkena sebuah ilusi perhatian, yaitu mengetahui hal yang penting tapi tidak melakukannya. Seperti ini, banyak orang merasakan tidak enaknya masa orientasi, tapi tidak pernah melakukan perubahan.

Saya menuliskan pada buku, dari pengalaman itu dan dari padangan saya setelah membaca perbandingan kegiatan orientasi dibeberapa negara, hal-hal yang perlu perhatian dan dilakukan perubahan yaitu : Perlengkapan yang digunakan tidak perlu aneh-aneh ataupun pakaian dibebaskan tapi memenuhi peraturan kampus, disini mahasiswa bukan lagi seorang anak kecil yang harus diberitahukan tentang pakaian yang harus digunakan, dan mahasiswa dikampus juga bukan seorang badut. Jika perlu mahasiswa baru didandani seperti seorang profesional yang sudah bekerja, supaya mereka percaya diri karena mereka terlihat keren. Kalau perlu tanda pengenal, gunakan papan nama yang sewajarnya. Mahasiswa pada umumnya selalu di beri tugas untuk membawa makanan dengan nama teka- teki, ya, ini bagus untuk mengembangkan pemikiran mahasiswa, tapi perhatikan kebutuhan, tujuan dan manfaat dari makanan yang dibawa tersebut. Saya sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat memikirkan memanfaatkan kegiatan ini untuk mengenalkan peran kita sebagai seorang kesehatan masyarakat dalam mengenalakan pola makan yang baik, seperti sarapan yang baik, perpaduan makanan yang baik, dan makanan yang memenuhi kebutuhan.

Ketika ada materi yang perlu disampaikan kepada mahasiswa baru, gunakan ruangan yang nyaman, duduk yang nyaman (tidak lesehan), yang bisa membuat mahasiswa baru bisa fokus dalam mengambil pelajaran dari materi yang disampaikan. Selain menerapkan ilmu Ergonomi yang telah dipelajari, ini juga menciptakan suasana yang profesional. Dimana kita dan mereka akan berada pada lingkungan seperti itu ketika bekerja nanti. Ruangan untuk waktu makan juga dapat dimaanfaatkan supaya mahasiswa baru bisa mengenal satu sama lain, dimana dapat dilakukan penataan posisi duduk yang secara psikologis dapat mendukung terjadinya perkenalan. Seperti setiap 2 kursi meja ditata saling berhadapan. Pada saat mengikuti masa orientasi ini, mahasiswa tidak terus berada di dalam ruangan. Mereka dibebaskan untuk berkeliling kampus ataupun dapat dilakukan perkenalan Organisasi kampus, UKM (Unit Kegiaatan Mahasiswa) dengan membuka stand diluar ruangan. Sehingga hal-hal yang berhubungan dengan kampus dapat diketahui oleh mahasiswa baru. Mengadakan acara diluar kampus, untuk mengenal lingkungan sekitar. Mereka bebas melakukan hal yang mereka inginkan dan peraturan yang berlaku pada saat itu dibuat dengan tidak mengekang mahasiswa baru tapi sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran harus dilaksanakan dengan tegas. Datang tidak perlu terlalu pagi, dan pulang tidak terlalu sore. Intinya tidak membuat mereka tertekan. Bukan mengikatkan rantai tapi memberi mereka sayap untuk terbang bebas.

Sesi hiburan pun dapat dilakukan supaya membuat peserta bisa menganal satu sama lain. Seperti perlombaan olahraga, kesenian, atau yang lainnya. Terkadang acara inilah yang paling ditunggu-tunggu mahasiswa baru. Pada penghujung masa orientasi bisa diadakan acara makan malam, dengan suasana parasmanan, memanfaatkan untuk memperkenalkan makanan daerah, hiburan akustik, stand up comedy atau acara yang dapat menghibur dan mengiringi acara makan malam tersebut. Cara ini sepertinya sangat mendukung untuk terciptanya suasana perkenalan satu sama lain. Baik itu antara mahasiswa baru atau dengan para panitia/senior. Dan tak lupa pada acara ini mahasiswa baru bisa unjuk kebolehan masing-masing dan berpartisipasi untuk menghibur pada acara malam tersebut. Memperlakukan mereka dengan dewasa diharapkan masa orientasi yang merupakan acara penyambutan mahasiswa baru bisa menciptakan rasa nyaman dan rasa betah dilingkungan baru mereka, sehingga selaras dengan tujuan diadakannya orientasi. Serta memberikan kesiapan dan semangat untuk menjalankan perkuliahan di pekan selanjutnya.

Zaman terus berkembang, dan pemikiranpun harus terus berkembang. Pada zaman global ini kita harus bisa menciptakan karakter yang profesional. Sekali lagi jangan sampai kita membuntut tanpa memahami apa yang kita ikuti. Masihkah kita akan terus menjalankan cara klasik untuk menghadapi zaman global ini? Bukan berarti kita tidak berkaca pada sejarah dan menghilangkan budaya yang telah ada, tapi kita melakukan perubahan terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki. Hal yang telah saya sampaikan tentang masa orientasi ini hanya sedikit pemikiran dan evaluasi saya terhadap yang telah saya alami. Tentunya dari pandangan saya, bagaimana cara kita untuk menciptakan suatu sistem yang dapat mendukung orang untuk mengenali diri sendiri, sehingga tuntutan menjadi seorang pemimpin bisa tercapai. Kerena ketika sudah kenal dengan diri sendiri, maka ia akan bisa berkembang. Pemimpin bukan hanya kita bisa menguasai orang lain, hal yang menjadi hakekatnya seorang pemimpin adalah bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Dan kebebasan melatih untuk bisa memimpin diri sendiri. Ketika sudah mengenali diri sendiri dan dapat memimpin diri sendiri, rasa hormat, tanggung jawab akan muncul. Tentunya hal-hal negatif terhadap diri sendiri dan orang lain yang ada dalam benak diri dapat dikendalikan untuk tidak dilakukan. Jika semua orang mempunyai ini, bayangkan yang akan terjadi.

*Titipan dari seorang sahabat, Azip Hasby

Rabu, 29 Juli 2015

8 Pintu Surga Terbuka untuk Anda, Duhai Wanita

Dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, "Jika wanita telah mengerjakan shalat 5 waktu, berpuasa sebulan penuh (pada bulan Ramadhan), menjaga kesuciannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya masuklah engkau ke surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan".

Mengapa hanya disebutkan shalat dan puasa? Karena shalat merupakan tiang agama, dan amalan pertama yang akan dihisab di akhirat. Jika shalatnya baik, maka amalan lain pun pasti akan baik. Lalu puasa, puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Orang berpuasa dosanya akan diampuni, dibukakan pintu ar-Rayyan untuknya, dan doa orang berpuasa mustajab. Terus mengapa tidak disertakan rukun Islam yang lainnya? Karena kebanyakan wanita tidak mencari nafkah sendiri, sehingga wanita tidak memiliki harta yang wajib dizakati dan melaksanakan ibadah haji.

Selanjutnya adalah menjaga kesucian. Kesucian adalah harta termahal yang dimiliki seorang wanita. Oleh karena itu wanita harus menjaga kehormatannya ketika suami tidak berada di sampingnya, membatasi diri dalam berkomunikasi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, untuk menghindari fitnah.

Kemudian menaati suaminya. Hal ini diperkuat dengan hadits lain, masih dari sahabat Abu Hurairah, "...Seandainya sesorang pantas bersujud kepada orang lain, sungguh akan kuperintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang telah diwajibkan oleh Allah atasnya". Tentu ketaatan kepada suami disini adalah dalam perkara makruf.

Mungkin wanita zaman sekarang yang sudah diracuni teori emansipasi, termasuk saya, bertanya-tanya mengapa begitu besar hak suami sehingga istri patut untuk bersujud kepadanya? Maka Allah menjawab dalam firman-Nya, "Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (pria) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (pria) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Oleh sebab itu wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka". (QS. An-Nisa:34)

Betapa gembiranya hati manakala diri tersanjung dengan janji Rasulullah Saw. Bayangkan saja, tidak semua orang yang masuk ke surga bisa memasukinya melalui semua pintu yang berjumlah 8. Namun ternyata, 8 pintu surga itu terbuka untuk wanita. Bukankah ini adalah sebuah kemuliaan, wahai para muslimah?

Sumber: Majalah Muslimah Qonitah. "Sosok Wanita Pendamba Surga". Edisi 21/ vol. 02/1436H-2015M.

Minggu, 26 Juli 2015

Mengecap Manisnya Iman dalam Berteman

Yunus bin 'Abdil A'la berkata, "Asy-Syafi'i berkata kepadaku, wahai Yunus jika engkau punya seorang sahabat yang senantiasa membantumu untuk taat kepada Allah, peganglah erat-erat dirinya. Sebab mendapatkan sahabat yang seperti itu sangatlah sulit, sedangkan melepaskannya amatlah mudah".

Islam adalah agama yang sempurna. Tidak ada satupun perkara yang dibutuhkan seorang hamba dalam meraih maslahat hidup yang belum tersinari cahaya Islam. Tak terkecuali urusan memilih teman. Islam memiliki perhatian besar terhadap urusan ini. Teman memiliki peranan yang sangat besar dalam mengubah kehidupan seseorang. Tidak sedikit orang yang berubah watak, karakter, dan akhlak karena pengaruh teman. Tidak sedikit pula orang yang rusak agamanya karena pengaruh teman. Kalau teman kita baik, sangat diharapkan kehidupan dunia dan akhirat kita juga baik. Namun jika teman kita buruk, jangan terlalu berharap kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Betapa banyak diantara kita yang tidak mendapatkan teman yang baik. Akhirnya mereka pun hidup dalam kesenangan yang semu, menipu, dan fana. Sungguh, manusia itu makhluk yang lemah. Semakin lemah dan semakin lemah keadaannya ketika dia berjalan seorang diri, sementara godaan datang silih berganti. Ujian berupa syubhat dan syahwat terus menyambar kalbunya. Dia sendiri menghadapi ujian tersebut tanpa orang lain yang mengingatkannya. Kira-kira mampukah dia menjalani hidup di atas ridho Allah?

Pada persahabatan sejati, tidaklah seseorang mencintai saudaranya kecuali karena Allah. Ketika harus memberi, ia memberi karena Allah. Demikian pula ketika harus menahan pemberian, ia menahannya karena Allah. Hal ini seperti yang telah dikatakan Rasulullah Saw. bahwa salah satu dari 7 golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan pada hari yang tidak ada perlindungan kecuali dari sisi Allah adalah, "Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu dan berpisah karena Allah".

"Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya". (HR. Al-Imam Ahmad 2/303, 334, Abu Dawud no. 4812, at-Tirmidzi no. 2484)

Ingatkah kita dengan kisah paman Rasulullah Saw., Abu Thalib? Abu Thalib meninggal di atas kekafiran dan kekal di dalam neraka, padahal hidupnya dipenuhi dengan jasa besar, membela dan melindungi Rasulullah Saw.

Pada detik-detik menjelang kematiannya, Rasulullah Saw. mengatakan, "Wahai pamanku ucapkanlah La ilaha ilallah, kalimat yang dengannya aku membelamu kelak di sisi Allah". Namun sebelum Rasulullah datang, di sisi Abu Thalib telah bercokol Abdullah bin Abu Umayyah dan Abu Jahl. Kedua orang ini terus-menerus menggembosi ajakan Rasulullah Saw. dan membangkitkan semangat fanatisme terhadap ajaran nenek moyang. Keduanya mengatakan, "Apakah engkau benci terhadap agama Abdul Muththalib?" Akhirnya Abu Thalib enggan mengucapkan La ilaha ilallah, dan mati di atas agama Abdul Muththalib (HR. AL-Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah memilihkan untuk kita teman yang saleh, teman yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yang dengannya kita menjalin pertemanan yang tidak akan putus ditelan zaman, pertemanan yang dibangun di atas kecintaan karena Allah, teman yang akan berkumpul dengan kita di dalam ridho dan surga-Nya. Amin.

Sumber: Majalah Muslimah Qonitah. "Mengecap Manisnya Iman dalam Berteman". Edisi 22/vol. 02/1436H-2015M

Rabu, 15 Juli 2015

Ketika Aku Bertanya

Dulu aku pernah bertanya
Tapi tak kunjung mendapatkan jawaban
Hanya karena satu kata, "ragu"
Akhirnya aku menduga
Menduga-duga dengan persepsiku
Namun kini, semua pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya
Tapi aku hanya terdiam kaku
Karena satu kata, "bimbang"
Bimbang karena aku adalah manusia
Manusia dengan kodratnya sebagai hamba
Sekaligus sebagai makhluk yang memiliki cinta
Kini akupun kembali bertanya
Sampai kapan aku akan bertahan
Sampai kapan aku akan terdiam
Apakah kisah ini akan berakhir begitu saja
Dan akan menggantung tak berujung
Atau... entahlah aku tak mampu mengatakannya
Terlalu rumit dan sulit

~Buanariksa~

Kamis, 25 Juni 2015

Gembok aja Lengkap sama Kuncinya

Hari itu... hari Kamis, tepatnya tanggal merah. Mangkanya, sejak pagi sampe sore aku gak kuliah, tapi nongkrong di KEMAH (Keluarga Mahasiswa), alias rapat proker. Berhubung minggu depan ada lomba debat Psikologi, selesai rapat aku langsung ngumpul bareng tim debat buat ngomongin materi.

Gak kerasa tiba-tiba udah jam 8 malam aja, kita pun terpaksa mengakhiri semuanya, walaupun dari 10 mosi baru kebahas setengahnya. Tapi yaa tubuh juga butuh istirahat, ditambah tugas-tugas kuliah yang numpuk sudah melambai-lambai minta diselesein. Jadi yaudah lah yaa pulang saja.

Sesampainya di kosan, ternyata listriknya mati karena konslet. Kita pun memanggil someone yang udah biasa ngebenerin masalah tek-tek bengek kaya gituan. Di sisi lain, laptop aku tiba-tiba mati dan gak bisa hidup lagi. Sedangkan semua tugas kuliah dan bahan materi buat lomba debat ada disana.

Tugas laporan praktikum wawancara harus dikumpulin hari Sabtu, verbatim 43 menit aja belom selese. Rencananya pulang latihan debat mau langsung ngerjain verbatim. Tapi mau dikatakan apalagi, listrik mati, laptop mati, hp pun ikutan mati. Lengkap sudah..

Sekitar jam 10 malam, listrik baru bisa nyala. Aku segera minjem laptop temen buat ngetik verbatim hasil praktikum wawancara kemaren. Sejenak aku terdiam, baru ngeuh kalo pas praktikum aku ngerekam pake hp. Gimana mau ngerjain verbatim kalo rekamannya aja ada di hp, dan hp nya ngerestart terus gak bisa dipake. Stres, frustrasi, dan entahlah husnudzon aja, mungkin Allah nyuruh aku untuk tidur.

Tapi gimana mau bisa tidur di saat genting kaya gitu. Hmmmm gak kerasa air mata pun netes begitu deras, aku mewek... nyesek banget rasanya. Marah? Sedih? Enggak tuh, soalnya aku tiba-tiba teringat sesuatu. Seketika aku sangat sangat sangat bersyukur. Allah ngasih aku cobaan sekaligus ngasih jalan keluarnya. Ko bisa? 

Ya itulah Allah, semua urusanku sudah Allah rancang dengan sedemikian rupa dan dengan sedemikian rapi. Jadi, waktu selese praktikum, temen sekelompok aku sebut saja namanya Mawar, dia segera meminta rekaman wawancara aku hari itu juga agar bisa langsung di burn di CD. Artinya, rekaman aku terselamatkan. Dan besok aku masih punya waktu 1 hari buat bikin laporan.

Lalu, bagaimana dengan nasib materi debat yang ada di laptop? Laptopnya baru bisa dipake hari Senin loh karena harus dirawat inap dulu di BEC. Sedangkan hari Rabu malam kita harus udah otw Semarang buat lomba. Jadi aku belajarnya darimana? Masih ada 5 mosi lagi yang belum dibahas loh. 

Lagi lagi aku mewek semewek-meweknya, bukan karena marah atau sedih, tapi alasannya masih sama. Aku mewek karena aku sangat sangat sangat bersyukur. Lagi-lagi semuanya udah Allah atur dengan rapi. Yaa, aku baru inget kalo sebelum laptop aku rusak, kita tukeran materi dulu. So, materi debat aku ada di flesdisknya temen, artinya semua file tentang debat terselamatkan juga.

Dengan kejadian itu, aku semakin percaya bahwa Allah itu ada. Allah benar-benar ada dan selalu ada kapan pun dimana pun kita membutuhkannya. Hikmah atau pelajaran yang aku ambil dari kejadian itu adalah "Tawakal", berserah diri kepada Allah. Manusia itu hanyalah hamba, sekali lagi manusia itu hamba. Seberat apapun cobaan yang Allah berikan, sangat tidak pantas jika kita marah dan menyalahkan takdir. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan". (QS. Asy-Syarh: 5). Apapun dan bagaimanapun cobaan yang Allah berikan, kita serahkan urusan kita kepada-Nya karena sebaik-baik pertolongan adalah pertolongan Allah, maka cukuplah Allah sebagai tempat bergantung.

Percayalah, bahwa manusia aja bikin gembok pasti udah sama kuncinya, begitupun Allah, ngasih cobaan pasti udah dengan jalan keluarnya. 

#Wallahualam

Sabtu, 06 Juni 2015

Kita memang Berbeda

Rangkaian kata tak mampu melukiskan sebuah rasa
Makna dari cerita yang pernah ada, seolah tak mampu untuk saling menguatkan
Jiwa yang rapuh rasanya semakin rapuh saat aku menjauh
Menjauh karena sebuah larangan, menjauh karena sebuah kewajiban
Alhasil kini kau pun benar-benar pergi
Entah enggan atau memang tak sudi untuk kembali

Tak ada yang tahu, kita sama-sama tidak tahu
Semuanya mengalir begitu saja, serba tiba-tiba
Kita pun saling menebak, saling menyimpulkan, dan akhirnya saling meninggalkan

Kita memang berbeda, entah itu prinsip, cara pandang, maupun gaya hidup
Tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah mengizinkan
Entahlah aku jadi ragu, ragu dengan prinsipku
Semakin hari rasanya semakin menggebu
Akupun mencoba mencari titik temu antara harapan dan kenyataan
Aku mencoba bertoleransi dengan diri sendiri, mencoba berpikir realistis dari sikap yang (mungkin) terlalu idealis

Jiwa-jiwa yang gundah, yang bimbang, dan yang rapuh perlahan mati karena sepi
Kosong, hampa tak bermakna
Kadang aku merasa kasihan, tak adakah jalan lain yang lebih adil?
Tak adakah konsekuensi yang lebih realistis untuk dipilih?
Ataukah aku sendiri yang belum tahu tujuannya?

Dalam diam aku mengeluh, dalam diam aku menangis
Lagi-lagi tak ada seorang pun yang tahu
Karena tak ada seorang pun yang aku percaya untuk dapat menyimpan cerita
Akhirnya aku bertanya kepada Dia Yang Maha Tahu
Dan jawabannya adalah...
Sebagai hamba aku hanya bisa menjalani
Tapi suatu saat nanti aku akan menuai hasil yang aku perjuangkan saat ini
Percayalah

~Buanariksa~

Jumat, 05 Juni 2015

Listening Skills Syarat jadi Psikolog

Kadang orang yang pandai bicara belum tentu pandai mendengarkan.

So, seorang psikolog jangan cuma pinter ngomong, jangan cuma lihai ngasih solusi, tapi yang paling penting adalah seorang psikolog harus memiliki listening skills yang baik. Yaiyalah, gimana mau ngasih solusi, kalau gatau masalahnya, gimana mau ngasih solusi kalo informasi yang didapat setengah-setengah.

Oleh karena itu, di semester ini aku ngambil mata kuliah interview. Jangan salah, teknik interview seorang psikolog jauh berbeda dengan interviewnya jurnalistik dan polisi. Yang menjadi ciri dari interview psikologi adalah diwarnai iklim psikologis (adanya kesetaraan antara interviewer dan interviewee), adanya kesimpulan, dan hasil kesimpulan dikaitkan dengan tujuan psikologis.

Aspek-aspek psikologis dalam interview:
1. Pemahaman mengenai aspek-aspek rasional dan emosional yang mendorong terjadinya tingkah laku
2. Pemahaman tentang sikap, konsep diri, defence mechanism, dan memori
3. Pemahaman mengenai adanya psychological field pada saat seseorang bertingkah laku meliputi motif, tujuan, persepsi, dan tension.

Interviewer harus memberikan motivasi (dorongan) ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik diantaranya menjelaskan maksud dan tujuan, menjelaskan bahwa informasi yang diberikan iterviewee akan memberikan kontribusi pada pencapaian tujuannya, dan menjelaskan apa yang diharapkan interviewee dalam interview. Sedangkan motivasi intrinsik diantaranya adalah menciptakan suasana yang nyaman, mempertahankan suasana yang membuat interviewee merasa dimengerti, dan memberikan kebebasan untuk mengungkapkan masalah.

Teknik mendengarkan yang baik dalam interview adalah active listening, yakni interviewer aktif mendengarkan, menunjukkan kesediaan bertanya tentang hal-hal yang kurang jelas agar dapat memahami informasi, dan tidak hanya berfungsi sebagai alat perekam yang sifatnya pasif.

Syarat active listening menurut Rogers & Farson adalah:
1. Intensity
Memberikan perhatian dan konsentrasi secara intensif
2. Empathy
Memahami apa yang dikatakan interviewee serta turut merasakan apa yang ia rasakan
3. Acceptance
Mendengar tanpa memberikan judgement (penilaian)
4. Take responsibility for completeness
Mendengar untuk merasakan dan bertanya untuk meningkatkan pemahaman.

Adapun langkah mendengarkan diantaranya:
1. Melakukan eye contact
2. Menunjukkan respon positif (tersenyum, menganggukkan kepala, bergumam)
3. Mengendalikan emosi
4. Mengendalikan gerakan yang akan mengganggu
5. Tidak melakukan interupsi atau sanggahan
6. Interviewee harus lebih banyak bicara daripada interviewer
7. Jangan meremehkan apa yang dikatakan interviewee
8. Buat suasana menjadi nyaman

Subhanallah, gak salah aku masuk psikologi. Disini aku diajarkan cara bagaimana menghadapi orang, cara bagaimana membuat orang lain nyaman dengan kita, dan cara bagaimana aku harus menempatkan diri saat berinteraksi dengan orang lain. Walaupun masih belajar, semoga ilmunya benar-benar bermanfaat dan membawa berkah yaa amiin.